Kamis, 22 Desember 2011

Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Sekitar Candi Prambanan, Yogyakarta.

Setiap kehidupan masyarakat maunusia senantiasa mengalami suatu perubahan. Perubahan pada kehidupan masyarakat merupakan fenomena social yang wajar, karna setiap manusia mempunyai kepentingan tidak terbatas. Perubahan-perubahan ini akan Nampak setelah tantanan social dan kehidupan masyarakat lama dapat dibandingkan dengan tatanan pada kehidupan masyrakat yang baru. seperti halnya perubahan yang terjadi pada masyrakat sekitar Candi Prambanan.
 
Perubahan-perubahan yang terjadi bisa merupakan suatu kemajuan ataupun suatu kemunduran adapun unsur-unsur kemasyrakatan yang mengalami perubahan biasanya mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial pola-pola prilaku, organisasi sosial, lembaga-lembaga permasyrakatan, dan sertifikasi sosial, serta yang lainnya.Perubahan-
perubahan sosial dan kebudayaan selalu berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi, baik pada masyarakat maju maupun masyarakat berkembang. Sebgaimana yang diungkapkan oleh Gillin dan Gillin bahwa perubahan-perubahan sosial merupakan suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Juga menurut Mac. Iver, bahwa perubahan-perubahan sosial dikatakannya sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.
Menurut selo soemarjan dan soelaiman soemardi, bahwa perubahan-perubahan di luar bidang ekonomi tidak dapat dihindarkan karena setiap perubahan dalam suatu lembaga kemasyarakatan akan mengakibatkan perubahan-perubahan di dalam lembaga kemasyarakatan lainnya. Perubahan-perubahan dewasa ini nampak sangat cepat, sehingga sulit untuk mengetahui bidang-bidang manakah yang akan berubah terlebih dahulu dalam kehidupan masyarakat.
Sehingga dapat disimpulkan, bahwa perubahan sosial itu adalah perubahan fungsi kebudayaan dan perilaku manusia dalam masyarakat dari keadaan tertentu ke keadaan yang lain. Menurut selo soemarjan dan seolaiman soemardi berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial adalah segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemsyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi system sosialnya termasuk di dalam nilai-nilai,sikap-sikap dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Sedangkan perubahan budaya adalah suatu keadaan di dalam masyarakat yang terjadi karena ketidak sesuaian di antara unsure-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga tercipta suatu keadaan yang tidak serasi fungsinya. Unsur-unsur kebudayaan tersebut antara lain yaitu religi, pendidikan, teknologi, kesenian, bahasa, mata pencaharian, organisasi sosial. Hal ini terjadi karena ada salah satu unsure kebudayaan yang tidak berfungsi lagi.
Pada dewasa ini proses perubahan sosial budaya dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1.   Kontak Dengan Kebudayaan Lain.
Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah diffusi, diffusi merupakan proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu kepada individu lain, dan dari satu masyarakat ke masyarakat lain.
2.      Sistem Pendidikan Formal yang Maju.
Pendidikan mengajarkan manusia untuk dapat berfikir secara objektif, yang akan memberikan kemampuan untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan zaman atau tidak.
3.      Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju, apabila sikap tersebut melembaga pada masyarakat, masyarakat merupakan pendorong bagi usaha-usaha penemuan baru.
4. Toleransi terhadap perbuata-perbuatan yang menyimpang (deviation)  yang bukan merupakan delik.
5.      Sistem Terbuka Lapisan Masyarakat (Open Stratification)
Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal yang luas atau berarti memberi kesempatan kepada para individu untuk maju atas dasar kemampuan sendiri.
6.      Penduduk yang Heterogen
Pada masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial yang mempunyai latar belakang kebudayaan rasidiologi yang berbeda mudah terjadi pertentangan-pertentangan yang mengundang keguncangan-keguncangan. Keadaan – keadaan demikian menjadi pendorong terjadinya perubahan dalam masyarakat.
7.      Ketidakpuasan Masyarakat Terhadap Bidang-Bidang Kehidupan Tertentu
Ketidakpuasan yang berlangsung lama dalam sebuah masayrakat yang kemungkinan besar akan mendatangkan revolusi.
8.      Orientasi Ke Masa Depan.
9.      Nilai Bahwa Manusia Harus Senantiasa Berikhtiar Untuk Memperbaiki Hidupnya.
Dari uraian di atas kita akan mengkaji bagaimana terjadinya suatu perubahan sosial budaya masyarakat di sekitar Candi Prambanan yang dijadikan objek wisata domestik dan internasional pada saat sekarang ini. 
Dahulu sebelum candi prambanan dijadikan sebagai kawasan pariwisata oleh pemerintah Klaten, banyak masyarakat yang bermukim tidak jauh dari candi prambanan berada. Namun setelah Pemerintah Klaten melakukan pemugaran candi prambanan untuk dijadikan sebagai tempat pariwisata pada tahun 1983-1984 maka lima desa masyarakat sekitar itu pun dipindahkan ke pemukiman Pemukti Baru yang dibangun pemerintah tidak jauh dari candi prambanan, atau biasa kita sebut dengan istilah bedol deso. Masyarakat mau menerima tawaran pemugaran tersebut dikarenakan biaya ganti rugi tanah masyarakat oleh pemerintah dianggap lebih dari cukup dan menguntungkan. Dari relokasi tempat tinggal tersebut maka mucullah beberapa perubahan-perubahan sosial masyarakat sekitar candi prambanan, antara lain yaitu mata pencaharian masyarakat yang tadinya mayoritas petani  lugu (petani biasa) sekarang berubah menjadi pedagang, baik itu pedagang cinderamata berupa baju batik, aksesoris ataupun hasil kesenian lain dari masyarakat sekitar candi prambanan, guru,  pegawai yang mengelola wisata candi pramban an, semisal pegawai dipembayaran loket masuk, petugas parkir, petugas kebersihan dll, atupun pegawai di hotel-hotel sekitar candi prambanan  yang didirikan oleh masyarakat luar daerah pemukiman pemukti baru, dan sebagainya. Adapun perubahan budaya yang dialami masyarakat karena adanya pemugaran tersebut tidak lah terlalu basar dampaknya. Budaya yang sudah ada seperti kesenian ; karawitan, wayangan, dan kuda lumping, religi/keagamaan ; pengajian masih tetap terjaga dengan baik. Pengajian di pemukiman pemukti baru biasanya diadakan tiga kali dalam sepekan. Hari rabu pengajian untuk bapak-bapak, kamis untuk ibu-ibu, dan sabtu untuk pemuda-pemudanya. Sedangkan pada malam minggu pada 35 hari kliwon di pemukiman pemukti baru biasanya diadakan wayangan. Dan meskipun mayoritas masyarakat sekitar candi prambanan beragama islam, namun candi prambanan tersebut masih digunakan untuk beribadah masyarakat luar.
Menanggapi permasalahan rusaknya budaya asli  karena pengaruh dari budaya luar yang masuk, bapak Suprapto (Ketua RW 07 Desa Telogo lor, Kec.Prambanan, Kabupaten Klaten) menyatakan, meskipun hidup di samping lokasi pariwisata yang pengunjungnya tak hanya dari dalam negeri melainkan juga dari manca Negara, namun dampak atau pengaruh budaya  yang dirasakan masyarakat Desa Tlogo tidak lah telalu besar dan vital. Hal ini disebabkan semua warganya masih kuat dan masih memiliki  rasa cinta dan peduli terhadap kebudayaan sendiri, tidak langsung menerima masuknya budaya-budaya yang sekiranya tak pantas untuk diterima sehingga dengan cara tersebut kebudayaan asli tidak tercemar dan rusak akibat adanya budaya luar yang masuk. Namun bagaimanapun juga semua masyarakat tetap memilki rasa untuk saling mengahargai terhadap  semua kebudayaan yang datang dan dirasa baru/belum dikenal.
Dari beberapa pediskripsian dengan observasi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak selamanya sebuah masyarakat yang hidup dan berada di sekitar lokasi pariwisata itu mengalami sebuah perubahan-perubahan social budaya yang negative yang bisa saja disebabkan masuknya pengaruh–pengaruh budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya asli. Namun, perubahan-perubahan sosial budaya yang berdampak yaitu bisa saja sebuah perubahan yang positif dan progresif. Adapun guna mengantisipasi adanya perubahan sosial budaya yang bersifat negatif maka perlu dilakukan tindakan preventif dengan cara memberikan sosialisasi terhadap komponen ataupun sub-sub dalam masyarakat agar memiliki kesadaran dan semangat yang kuat untuk menjaga dan mempertahankan  kebudayaan  yang  dianggap pantang untuk ditinggalkan.


Daftar Pustaka
Soekanto,Soerjono.2006.Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.
2010. Kompleks Percandian Prambanan (Loro Jonggrang) dan Candi-candi sekitarnya.Yogyakarta:PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko. 
 








0 komentar:

Poskan Komentar

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com